MUD : THE STORY OF KUALA LUMPUR

Kamis, Oktober 06, 2016





kalau ditanya apa mata pelajaran yang paling membosankan menurut Babang Trav selain Matematika, sudah pasti jawabannya Sejarah. Bagi sebagian orang, sejarah bisa jadi lebih menarik jika mendatangi museum atau langsung datang ke lokasi bersejarah karna bisa liat secara langsung peninggalan sejarah dibandingkan cuma liat dari foto yang ada dibuku. Masalahnya dari dulu Babang gak terlalu tertarik jalan ke tempat bersejarah apalagi museum. Satu-satunya tempat bersejarah yang pernah dikunjungi waktu kecil yaitu patung Malin Kundang, lelaki minang yang dikutuk jadi rendang batu oleh ibunya karna durhaka. Kayaknya semua orang tua di Sumatera Barat mewajibkan anak mereka mengunjungi tempat ini seenggaknya sekali seumur hidup biar kelak anaknya gak durhaka kayak si Malin.  



Pelajaran Sejarah bukanlah paporit Babang dari dulu karna musti baca buku tebal dan ingat satu-satu kejadian berdasarkan kronologi serta taun kejadiannya. Selain itu kita harus mereka-reka sendiri seperti apa kejadiannya sesuai imajinasi masing-masing. Makanya gak usah tanya nilai sejarah Babang pas sekolah dulu ye, nilai cukup makan doang #nangisdarah. Saat Babang diundang untuk nonton #MUDKL, drama musikal tentang SEJARAH Kuala Lumpur, Babang vikir pertunjukan ini gak bakalan menarik. Apa hal keren yang bisa ditampilkan selain cerita berganti sesuai taun ke taun? Babang gak punya ekspektasi tinggi tentang ini.



Pertunjukan #MUDKL diadakan di Panggung Bandaraya Dataran Merdeka. Panggung ini udah berusia 113 taun dan merupakan panggung teater tertua di Malaysia. Harga tiket Rm 84.40 atau sekitar 265 ribu rupiah, berhubung Babang diundang jadi tinggal duduk manis aja karna gretong.  Tokoh sentral dalam cerita ini adalah 3 sahabat yaitu Mamat keturunan melayu, Meng keturunan chinese dan Muthiah keturunan India yang merupakan representasi populasi penduduk Malaysia yang terdiri 3 etnis tadi. Pertunjukan drama musikal ini diawali dengan cerita di taun 1857-1880 saat daerah pertemuan sungai Gombak dan Sungai Kelang (Kuala Lumpur sekarang) masi berupa daerah pertambangan timah. Drama musikal #MUDKL dibagi menjadi 4 babak

Babak pertama : Mamat, Meng dan Muthiah memutuskan merantau ke Kuala Lumpur untuk mencari kehidupan lebih baik.

Babak kedua : Cerita berfokus pada perjalanan hidup ke tiga tokoh utama. Mamat mengadakan pesta perayaan atas kelahiran anaknya, Meng berhasil mendapatkan pekerjaan di Lombong Ampang, sedangkan Muthiah mengalami stress karna belum juga mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya.

Babak ketiga : Masyakarat Kuala Lumpur dihadapkan dengan kebakaran dahsyat taun 1881 yang memusnahkan segala harta benda yang mereka punya.

Babak terakhir : Kebakaran hebat di taun 1881 akhirnya berhasil padam oleh hujan lebat dalam waktu yang lama. Penderitaan mereka belumlah berakhir karna hujan lebat mendatangkan banjir bandang pada Desember taun 1881. Walau awalnya masyarakat Kuala Lumpur hampir putus asa dan terbersit untuk pindah ke kota lain, dengan ketabahan hati mereka memilih untuk tetap tinggal. Mereka membalikkan keadaan dengan cepat, lumpur yang menggenangi seluruh kota dimanfaatkan menjadi batu bata untuk membangun rumah-rumah baru, bangunan baru sehingga Kuala Lumpur berkembang menjadi Kuala Lumpur yang bisa kita liat sekarang ini. Jadi nama Kuala Lumpur berasal dari Kuala (pertemuan 2 sungai) dan Lumpur ( Lumpur yang menggenangi daerah tersebut).



Siapa sangka drama musikal tentang SEJARAH yang Babang vikir membosankan ini adalah pertunjukan yang amat menarik. Bahkan setelah 2 kali nonton Babang masi bersemangat kasi tepuk paling meriah untuk pemain. Mereka mampu menyampaikan cerita yang mudah dipahami,  diiringi dengan musik dan tari-tarian serta lelucon yang dijamin bikin penonton ngakak. Cerita disampaikan dalam bahasa inggris dan diselipkan bahasa melayu, china dan india dibeberapa bagian.



Drama musikal #MUDKL bukanlah pertunjukan satu arah. Penonton diajak untuk ikut bagian dalam cerita. Seperti saat mereka mengadakan kenduri, penonton diajak ke pentas untuk membantu menggiling cabe atau diminta untuk ikut menari-nari. Diakhir acara kita juga dibolehin foto bareng dengan pemain. Oia, jika dikebanyakan pertunjukan kita dilarang foto-foto apalagi rekam video saat acara berlangsung, di drama musikal #MUDKL kita malah disuruh untuk foto sebanyak-banyak sesuka hati, dengan syarat harus di polot ke akun sosmed :).




MUDKL
Alamat        : Panggung Bandaraya Dataran Merdeka Jalan Raja, 50350 Kuala Lumpur
telp              : +603-2602 3335
Fax              : +603-6142 7978
Email          : booking@mudkl.com
Website       : www.mudkl.com
Facebook    : www.facebook.com/MUDKualaLumpur
Jadwal         : 2 kali sehari . jam 3 sore dan 8.30 Malam
Harga Tiket : Warga Negara Malaysia Rm 53
                       Warga Negara Lain Rm 84.40

--------------------------------------------------------------------------------------------




Tulisan ini merupakan media familiarization trip #AboutKL pada 21-23 September 2016 bersama 22 social media influencers dari Indonesia, Singapore, dan malaysia yang diselenggarakan oleh Tourism Malaysia Kuala Lumpur bekerja sama dengan Gaya Travel Magazine Malayisa.


You Might Also Like

14 komentar

  1. Betuuul banget! 2 kali nonton tetap saja tidak membosankan. :) aku juga gak begitu suka sejarah, tapi senang kunjungan ke museum. Nah, nonton drama sejarah kayak gini adalah jalan keluar bagi orang yang ingin menikmati sejarah dengan cara berbeda.

    Bagi pembaca blog babang Ahmad yang mau tiket #MUDKL GRATISAN senilai hampir Rp.280.000, boleh main ke blogku (atau klik aja nama blog yang aku gunakan saat komen), siapa tahu kamu yang akan mendapatkan salah satu dari 2 tiket yang aku hadiahkan :)

    Chaiyo!

    BalasHapus
    Balasan
    1. teman2 Babang yang kece bisa langsung melipir ke TKP, siapa tau bisa nonton #MUDKL yang Wow emejing inih 😱

      Hapus
  2. Sejarah di sana masih terjaga dengan baik yah, kalau di negeri kita ini sejarahnya masih membingungkan. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, negara tetangga tau betul mengkomersialkan sejarah mereka dengan baik dan menarik

      Hapus
  3. Iya mereka bagus banget. Akting, gerak tubuh, musik, dan tata panggung saling mendukung. Apa kita mesti impor para aktornya untuk mementaskan sejarah Indonesia ya? Wkwkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak usah uni, masi banyak stok cowok tamvab jago drama di indonesia. contohnya Babang trav ini 😝

      Hapus
  4. Seru sekali bang perjalanannya dan yang bikin serunya liburannya itu bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat tentunya, jadi pengen juga nih, ahi hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kang, gak sekedar jalan2 aja, tapi nambah ilmu dan wawasan juga

      Hapus
  5. Ah, gilak. Aku jadi inget dosenku pernah bilang kalau negara tetangga itu sangat menghargai sejarahnya dan kayak disimpan rapi-rapi gitu. Eh, bener. Keren ya ternyata :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener sekali mas, negara tetangga serius bikin sejarah dan kebudayaan mereka jadi produk yg bisa dijual kayak gini

      Hapus
  6. Serba salah yaaa, kebakaran api trus banjir air

    BalasHapus
  7. Pertunjukan yang angkat sejarah di atas panggung usia 113 tahun. keren banget.
    Apalagi penonton diajak terlibat ya...
    bener2 luar biasa mereka ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren sekali mas. kalau diajak lagi Babang bakalan mau lagi 😅

      Hapus

🙏 Hai salam kenal ya. Matur tengkiuw udah kepoin blog Babang Trav. jangan lupa tinggalin komen ya. Babang pasti berkunjung balik ke blog Kepoerz semua. Komen berisi link langsung Babang hapus ya.

Untuk kerjasama bisa dihubungi lewat email : travengler@gmail.com

Facebook   Google+   Instagram   Twitter